Mamuju Run 2026Iklan
Beranda › Feature › Detail
FeatureBudaya

Tomebalun, Membungkus Perjalanan Terakhir

✍️ 🗓 2 November 2026👁 18 dibaca ⏱ 6 menit baca
Tomebalun, Membungkus Perjalanan Terakhir

Demmaluru memasukkan benang terakhir, ia terus menjahit, kain merah sudah menutupi seluruh lapisan kain di dalamnya. Sudah tiga hari ia bersama beberapa orang anak muda melakukan prosesi ini. Usia mereka dengannya terpaut jauh. Dari luar rumah, suara padaling (gong) terdengar bersahut-sahutan, bunyinnya teratur, dua anak memainkannya dengan ceria. Diantara suara itu, ada juga suara gendang yang dimainkan dengan bunyi tertentu. Lima buah gendang dengan ukuran berbeda dipukul secara bergantian.

Jenazah Indok Tasik Karaeng telah disimpan selama satu tahun sembilan bulan di atas rumah. Tiga hari yang lalu jenazah dikeluarkan dari kayu mate, sebuah peti kayu bulat yang dipakai menyimpan jenazah. Prosesi pembungkusan sedang berlangsung, orang Mamasa menyebutnya pebalunan. Rangkaian ini sangat rumit, butuh waktu dua sampai tiga hari untuk menyelesaikannnya.

Kain merah sudah menutupi seluruh bungkusan, di dalamanya ada jenazah, ratusan kain telah masuk sebelumnya. Bagi orang Sulawesi Barat di Mamasa, kain merah digunakan pada upacara duka selain warna hitam tentunya. Kain yang membalut jenazah adalah simbol tingkatan pada upacara rambu solo atau upacara kedukaan. Demmaluru sudah menggeluti prosesi ini lebih dari separuh usianya.

"Saya sudah 65 tahun, umur 30 tahun mulai kerja seperti ini,” kata Demmalluru yang memimpin prosesi ini, ia disebut tomebalun.

Bungkusannya sudah semakin padat. Jika diketuk, suaranya seperti sedang mengetuk papan. Tahapan pengerjaannya bertingkat, dimulai dengan bungkusan biasa kemudian memasukkan beberapa helai pakaian jenazah.

“Pertama itu kain-kain kecil, celana, baju, sarung tenun, selimut. Setelah itu ada namanya dibantala, itu diikat dengan ikatan tertentu, jadinya kuat,” sambil menyeka keringat dari wajahnya, Demmalluru menjelaskan tahapan demi tahap dengan pelan.

Kain-kain tersebut diikat dengan sangat erat. Setelah dibantala, dibungkus lagi dengan menggunakan kain atau sarung yang besar sampai ikatan bantalanya tidak terlihat lagi, barulah kain merah dipakai.

“Pakai kain putih, pertamanya itu bantala ada namanya lakka, bentuknya bundar. Baru dipasang namanya salibeang, diikat salibeang, maka jadilah bantala. Untuk mengikat kuat,” Demma menjelaskan detailnya, kemudian menyemburkan asap tebal dari mulutnya.

Kerumitan tahapan tersebut membuat pebalunan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Ada orang-orang tertentu yang memiliki keterampilan dan mendapat mandat untuk menjalankannya. Keterampilan itu tidak sekadar dipelajari melalui pengamatan, tetapi juga diwariskan dalam lingkungan keluarga.

“Ada orang tua yang memberikan mandat bahwa kamu yang kerja seperti ini, karena ini tidak sembarang kerja,” tuturnya.

Selama 35 tahun menjadi tomebalun, Demmalluru telah membungkus jenazah di berbagai wilayah. Ia bahkan tak lagi mampu menghitung berapa banyak jenazah yang pernah ia tangani.

“Banyak orang yang kerja juga ini, tapi tidak terbatas wilayahnya. Saya pernah di Mallangkena Padang, pernah di Orobua, Sesena Padang, pernah di Rante Buntu Lekong, dan di wilayah Tawalian ini. Paling jauh di Batu Maktombon Kecamatan Sespa,” katanya sembari mencoba mengingat kembali tempat-tempat yang pernah ia datangi.

Menurut Demmalluru, pengalaman dan kedekatan dengan keluarga menjadi hal penting yang membuat seseorang dipercaya untuk membungkus jenazah. Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Ada hubungan kekeluargaan dan proses pewarisan keterampilan yang menyertainya.

Saat dipercayakan untuk membungkus jenazah, Demmalluru akan membawa beberapa anak muda dari kalangan keluarganya untuk ikut membantu. Ini juga ia lakukan agar prosesi ini terus berlanjut ke genarasi berikutnya.

Demianus salah seorang pemuda itu. ia mulai ikut prosesi ini saat berusia 25 tahun. Sudah 13 tahun pria yang berprofesi sebagai petani ini melakukannya.

“Dari umur 25 tahun, ambek (bapak) ini om saya. Pertama ikut itu diajak, dengan sendirinya bisa.  Awalnya diajak, setiap ada ambek saya ikut juga,” cerita Demianus.

Ia perlahan mulai memahami beberapa prosesi ini, meski belum mahir sepenuhnya. Beberapa tata cara masih dilakukan Demmalluru sebagai pemimpin, ia hanya melanjutkan sisanya.

“Sudah banyak juga yang saya ikuti, sudah tahu prosesnya, cuma itu yang dikatakan ambek (bapak: Demmalluru) tidak sembarang, harus ambek yang mulai dulu, kita ini membantu,” tutup Demianus.

Prosesi pebalunan ini diturunkan secara turun temurun dari beberapa genarasi. Jika dari garis keturunan tidak pernah ada yang mebalun, maka secara otomatis ia tidak bisa melakukanya. Beberapa prosesi pada upacara rambu solo, pengetahuannya diturunkan pada garis keturunan, semisal orang yang memukul gendang, orang yang mengukir jenazah, dan juga orang yang membungkus jenazah.

Demmalluru menceritakan awal mula ia mengikuti prosesi ini dari ajakan omnya, kemudian ia terus melakukannya ketika ada keluarga yang membutuhkannya.

“Memang ada orang tua kami yang kerja seperti ini, kebetulan itu orang tua sudah tua, sudah tidak kuat kerja waktu itu. Katanya, saya sudah tua, kamu yang lanjutkan ini, dan memang dari turunan, karena ini tidak sembarang. Nanti ada orang tua yang kerja baru bisa kerja, diajarkan kepada keluarga,” Sedikit berpikir, Demmalluru kembali menceritakan.

Olehnya itu, ia melanjutkan tradisi ini dan membawa beberapa orang keluarganya yang masih muda untuk ikut membantu. Karena prosesi ini butuh tenaga yang maksimal saat proses pengikatan, maka anak muda dibutuhkan untuk melakukannya. Sementara itu, ia memimpin setiap tahapan pebalunan.

“Kalau saya keluar, semua anak-anak keluarga saya bawa. Istilahnya, kalau orang mati itu ada tingkatannya, bungkusnnya seperti ini, harus mencukupi syarat jumlah kerbau. Kalau syaratnya tidak bisa, ya kita bungkus juga tapi tidak dengan kain merah.”

Setelah dibungkus dengan kain merah, tahapan selanjutnya adalah ditempeli ukiran dengan menggunakan motif tertentu pada bungkusan, warna motifnya adalah warna emas.

Tingkatan acara Rambu Solo atau upacara kedukaan di Mamasa ditandai dengan berapa jumlah gendang yang dipasang di depan rumah selama prosesi.Dimulai dari satu gendang. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah 5 gendang. Namun beberapa wilayah seperti di Kecamatan Sumarorong, Nosu, dan Pana’ jumlah maksimal untuk tingkatan tertinggi adalah 2 gendang.

Acara puncak Rambu Solo adalah pebabaran biasa juga disebut mebabak, semua kerbau dipotong pada tahapan ini. Jumlah kerbau yang dipotong sesuai dengan tingkatannya, semakin banyak kerbau yang dipotong maka semakin tinggi juga tingkatan acaranya. Jumlah kerbau juga ditentukan dengan jenis kerbau yang dipotong.

Kerbau-kerbau yang dipotong selanjutnya akan dibagikan kepada semua rumpun keluarga yang terkait dengan jenazah yang meninggal dari yang paling dekat sampai yang paling jauh. Tata cara pembagian juga telah diatur sedemikian rupa, tentu jumlahnya tidak sama untuk setiap orang atau keluarga. Selain itu, semua yang terlibat dalam acara juga akan mendapat bagian yang telah ditentukan.

Orang yang melakukan prosesi bungkus jenazah juga akan mendapat bagian pada saat pembagian daging, biasanya mereka akan mendapat bagian kaki belakang atau yang disebut pupuh. Selain itu, tomebalun juga akan mendapat potongan sepak bai (kaki babi).

Acara puncak Rambu Solo biasanya berlangsung selama sepekan, dari jenazah mulai dikeluarkan dari peti kayu, dibungkus hingga diantar ke kuburannya.

https://malaqbi.com/foto/tomebalun-menjahit-kain-terakhir-40

Editor: Marfan

Komentar

Berita Terkait