Mamuju Run 2026Iklan
Beranda › Pendidikan › Detail
Pendidikan

Bias Gender dalam Perjamuan Khong Guan

✍️ 🗓 11 Oktober 2026 ⏱ 6 menit baca

Dulce et utile artinya indah dan bermanfaat, karya sastra sebagai media menyampaikan gagasan-gagasan humanis seharusnya tidak hanya bisa menghibur pembaca dengan kata- kata indah dan jalan ceritanya, lebih dari itu harus berguna. Begitulah novel Uncle Tom's Cabin karya Harriet B. Stowe menginspirasi penghapusan perbudakan di Amerika. Karya sastra seharusnya mampu menyajikan satu ide pembaruan atau menggambarkan kondisi yang terjadi dalam masyarakat. Salah seorang penulis puisi dengan gaya romantis dan satir adalah Joko Pinurbo. Ia banyak menangkap hal-hal dalam kehidupan sekitar kita sebagai tema puisinya, salah satunya adalah Perjamuan Khong Guan. Kumpulan puisi ini diterbitkan pada tahun 2020, berisi 129 puisi, dibagi ke dalam empat bab yang disebut Kaleng. Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah sampulnya yang menyerupai kaleng Khong Guan. Ada beberapa isu yang coba disampaikan Jokpin dalam puisinya termasuk isu gender.

Isu gender tidak penah lekang dimakan masa di Indonesia di mana budaya patriarki masih mengakar kuat. Pada Kaleng Keempat ada tujuh puisi Jokpin yang menggambarkan gender gap. Hal ini menarik sebab gambar kaleng Khong Guan yang juga sampul kumpulan puisi ini memperlihatkan sosok Ibu dengan dua anak tanpa kehadiran seorang ayah. Banyak masyarakat yang membuat lelocon tentang ke mana sosok ayah, tetapi dibalik lelucon tersebut kaleng tersebut memberikan gambaran tentang posisi perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengurusi rumah, menjaga anak dan melayani suami saat ia di rumah. Peran Ibu hanya pada wilayah-wilayah domestik saja. Aristoteles dalam De Generatino Animalium menuliskan bahwa laki-laki secara alami superior dan perempuan adalah imprior. Oleh sebab itu, laki-laki diberikan ruang lebih untuk bergerak di banyak bagian dalam kehidupan manusia dan perempuan hanya kebagian ruang-ruang domestik seperti keluarga. Lebih lanjut, di ruang keluarga pun laki-laki adalah pemimpin.

Joko Pinurbo menjadikan kehidupan masa kini sebagai tema puisi-puisinya disajikan dengan gaya bahasa satir dan terkadang humoris. Dari tujuh puisi yang menggambarkan posisi laki- laki dan perempuan, lima diantaranya memperlihatkan superioritas laki-laki dan hanya ada dua yang merepresentasikan perempuan. Lima puisi yang menggambarkan laki-laki juga secara tidak langsung menceritakan bagaimana kondisi perempuan yang selalu menjadi the second gender atau hanya menjadi pelengkap untuk laki-laki.

Posisi laki-laki dan negara ditulis dengan sedikit satir di Perjamuan Khong Guan, Jokpin menuliskan bagaimana seorang Ayah yang sangat vital perannya dalam negara. Di lain sisi, puisi ini memantapkan posisi perempuan dalam memberikan kasih sayang kepada anaknya seperti pada potongan puisi Ibu yang hatinya koko membelah, Dan memotong-motong bulan, Dan memberikannya, Kepada anak-anaknya yang ngowoh. Kalimat satir selanjutnya yang ditujukan kepada sosok laki-laki yang sibuk dengan aktivitas kenegaraan atau politik dan jarang makan bersama keluarga adalah “Ayahmu dipinjam negera. Entah kapan akan dikembalikan.” Pada puisi Keluarga khong Guan dan Ayah Khong Guan juga menceritakan hubungan Ayah, negara dan peran pentingnya dalam masyarakat. Puisi yang pertama ada kutipan Ayahmu sedang menjadi nasionalisme yang sedang bingung dan bimbang dan puisi kedua, maaf, saya sedang berbahagia. Negara dilarang masuk ke dalam hati saya dengan jelas memperlihatkan peran penting laki-laki dalam urusan berbangsa dan bernegara.

Pada puisi Malam Khong Guan dan Sabda Khong Guan superior kembali diperlihatkan dalam karakter anak laki-laki Gundul yang ceria serta Gus yang diagungkan keilmuannya. Dua puisi yang merepresentasikan perempuan adalah Ibu Khong Guan dan Doa Khong Guan. Kedua puisi tersebut memperlihatkan perempuan dengan kelemahlembutannya sebagai seorang ibu dalam mengurus anak-anak dan rumah tangganya. Namun, di saat yang sama juga menegaskan peran perempuan sebagai kelas kedua dalam rumah tangga yang harus melayani laki-laki seperti dalam kutipan Sudah siap dihidangkan di meja makan.

Dengan menggunakan biskuit Khong Guan Joko Pinurbo memberikan gambaran ketimpangan posisi antara laki-laki dan perempuan. Feminisme sudah sejak lama memberikan fokus melawan dominasi laki-laki dalam berbagai ruang termasuk dalam keluarga. Budaya patriarki memberikan ruang besar pada laki-laki untuk mendominasi ruang publik dan privat. Pengekangan terhadap kebebasan perempuan untuk bekerja, berkarya dan berosialisasi layaknya laki-laki tidak didapatkan. Puisi-puisi ini dengan memberikan gambaran kepada kita bahwa sampai hari ini perempuan masih dinomor duakan, perempuan tidak mempunyai ruang untuk mengurusi hal-hal besar seperti negara. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Simone de Beauvoir bahwa perempuan adalah mahluk kelas dua. Ia menulis Second Sex yang berisi tentang laki-laki sebagai coordinate dan perempuan sebagai subornite. Dalam puisi Keluarga khong Guan dan Ayah Khong Guan secara terbuka menjelaskan peran vital laki-laki di dalam rumah dan di luar rumah. Memang ada perempuan- perempuan yang mampu berpatisipasi dalam kenegaraan, tetapi itu hanya sedikit. Perempuan-perempuan tersebut dikelilingi laki-laki dan kepentingan-kepentingan patriarki. Contohnya Megawati yang berhasil menjadi Presiden, tetapi tidak berlangsung lama. Narasi pemimpin harus laki-laki menjadi salah satu penyebab masyarakat tidak mendukungnya. Meskipun puisi-puisi Jokpin memperlihatkan posisi penting laki-laki dalam dominasinya terhadap perempuan, ada hal yang sangat penting dan patut diperhatikan yaitu peran perempuan dalam rumah tangga dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang perempuan dalam peran sebagai ibu terlihat pada Keluarga khong Guan, Ibu Khong Guan, Perjamuan Khong Guan dan Doa Khong Guan. Ada kasih sayang terhadap anak, saat ibu menenangkan anaknya yang sedang mencari Ayahnya, memberikan doa untuk anaknya yang entah kapan pulang dan rasa sabar seorang istri menanti suaminya. Di samping itu, pada Doa Khong Guan menjelaskan ketegaran, cinta dan doa kepada anak dari seorang Ibu.

Jika kita menelaah secara dalam, maka akan didapatkan bahwa peran perempuan tidak kalah penting dengan laki-laki. Untuk jangka pendek pembaca dapat melihat ketegaran dan kesabaran Ibu dalam menjaga ketenangan anggota rumah tangga dengan kasih sayang. Untuk jangka Panjang, peran ibu sebagai penjaga generasi penerus bangsa sangat penting. Anak-anak yang dibesarkan dengan kasih sayang seperti pada puisi-puisi Jokpin tersebut dapat tumbuh dengan baik karena cinta seorang ibu.

Ayah Khong Guan dan Ibu Khong Guan memperlihatkan peran dua gender di mana Ayah Khong Guan menggambarkan hubungan ayah dengan negara sedangkan Ibu Khong Guan menceritakan perjuangan Ibu untuk memberikan makan kepada keluarganya. Dua puisi tersebut mengisyaratkan peran dua gender yang berbeda, peran laki-laki di luar rumah dan peran perempuan di dalam rumah. Kedua peran tersebut sama-sama pentingnya, tetapi pada puisi Ayah Khong Guan, Ayah mencari ketenangan di dalam rumah tidak ingin diganggu, “maaf, saya sedang berbahagia. Negara dilarang masuk ke dalam hati saya.” Potongan puisi tersebut menjelaskan bahwa ketenangan laki-laki didapatkan di rumah yang diurusi dengan baik oleh perempuan.

Hal yang perlu dicermati dari puisi-puisi tersebut adalah Jokpin hanya menggambarkan perempuan dalam sosok ibu, tidak ada peran perempuan selain menjadi ibu dan istri. Ini terjadi karena Jokpin mengacu pada kaleng Khong Guan di mana hanya ada ibu dan anak- anaknya. Namun, gambar kaleng Khong Guan bisa juga menjelaskan peran single mother yang membesarkan anaknya secara mandiri seperti beberapa karya sastra. Perempuan juga dapat digambarkan sebagai perempuan yang mencintai negaranya seperti Dorothea Mackellar dalam puisinya My Country. Sehingga bukan hanya laki-laki yang nampak peduli dengan bangsanya, tetapi juga perempuan. Pada puisi-puisi tersebut Jokpin juga tidak menampakkan kasih sayang laki-laki kepada keluarganya. Oleh sebab itu, ke tujuh puisi Joko Pinurbo seakan menggambarkan peran laki-laki dan perempuan yang berbeda. Karya sastra seyogyanya tidak hanya memberikan hiburan dengan kata-kata indahnya, tetapi juga sebagai media untuk menggugah dan memotivasi pembaca. Secara khusus dalam emansipasi perempuan karya sastra diharapkan memberi sumbangsi untuk menciptakaan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. 

Komentar

Berita Terkait