2025-09-13 | Dibaca: 347
Mamasa (malaqbi.com) Rencana pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Salurano, Kecamatan Tanduk Kalua, Kabupaten Mamasa menuai penolakan keras dari masyarakat setempat. Pada Sabtu (13/9/2025), sekelompok warga yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Salurano menggelar aksi dengan menutup jalan serta memasang baliho penolakan di pintu masuk menuju lokasi TPA.
Koordinator aksi, Reynal Mesakaraeng, menegaskan bahwa aksi ini merupakan simbol perlawanan masyarakat terhadap kebijakan yang dianggap merugikan. Menurutnya, lokasi TPA yang direncanakan terlalu dekat dengan pemukiman warga dan berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan serta kenyamanan.
“Kami menolak keras keberadaan TPA ini. Penempatannya terlalu dekat dengan rumah-rumah warga. Jika tetap dilanjutkan, akan menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan, dan bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas masyarakat,” tegas Reynal saat aksi berlangsung.
Reynal menambahkan, penolakan warga bukan berarti tidak mendukung program pemerintah. Namun mereka berharap TPA dibangun di lokasi lain yang lebih jauh dari permukiman.
Penolakan tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemuda hingga anak-anak. Warga menilai keberadaan TPA tidak hanya menimbulkan bau menyengat, tetapi juga berpotensi mencemari sumber air bersih yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Kekhawatiran semakin menguat karena sebagian besar masyarakat Salurano menggantungkan hidup pada pertanian dan perkebunan yang sangat bergantung pada kualitas lingkungan.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyebut penolakan ini bukanlah hal baru. Menurutnya, sejak dulu pembangunan TPA sudah ditolak, bahkan almarhum Kepala Desa Salurano pertama, Marten D., juga menentang rencana tersebut sehingga sempat dihentikan. “Sekarang tiba-tiba muncul lagi kabar bahwa pembangunan TPA akan dilanjutkan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait penolakan masyarakat. Warga berharap aspirasi mereka benar-benar didengar dan dijadikan pertimbangan sebelum proyek dilanjutkan.
Reynal menegaskan aksi ini tidak akan berhenti sampai pemerintah menghentikan rencana pembangunan.
“Kami akan terus bersuara. Lingkungan adalah hak bersama, dan kami tidak akan tinggal diam jika kesehatan warga dipertaruhkan" tutupnya. (*)