Perjuangan di Benteng Kayu Mangiwang

Malaqbi.com | Redaksi

Kamis, 03 November 2011, Pukul: 06:19:45 | Dikunjungi: 8612 Kali
Bermula di zaman Maradika Pua' Aji memerintah di Mamuju (sekarang Ibu kota Propinsi Sulawesi Barat) datanglah Kapal Putih (Kapal Perang) Belanda langsung ke pelabuhan Mamuju kira-kira pada tahun 1902. Belanda langsung menjemput Maradika Pua' Aji bersama Ada' Pitu dibawa ke Kapal Putih, kecuali Pangulu dan Tomatoa. Kapal Putih tersebut membawa Maradika Pua' Aji dan Ada' Pitu berlayar sampai ke Tanjung Rangas dan disanalah Belanda menyodorkan Surat Perjanjian (Korte Verklaring) yang isinya "BALINNA BALANDA BALIKKUTO'" dengan huruf Lontar. Kemudian Belanda bersedia menggaji Maradika Pua' Aji dan Ada' Pitu dengan syarat "Semua senjata kerajaan harus diserahkan kepada Belanda" Mulai pada saat itu Maradika Mamuju dan Ada' Pitu resmi menjadi Zelef Bestuur dibawah kekuasaan Belanda. Setelah Pangulu dan Matoa dipanggil oleh Maradika untuk menyerahkan senjata kerajaan kepada Belanda, maka Pangulu sebagai Panglima Perang kerajaan bersama Matoa sama sekali tidak menyetujui untuk menyerahkan senjata tersebut. Maka Pangulu dan Matoa meninggalkan Maradika dan Adat Mamuju menuju Budong-Budong dengan mengangkut semua senjata dan peralatannya, lalu mendirikan benteng pertahanan di Kayu Mangiwang kira-kira 10 Km dari pantai Ba'bana Budong-Budong dan mereka nekad untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belenda dengan Benteng Kayu Mangiwang sebagai markasnya.

Jadi yang sebenarnya membangun Benteng Kayu Mangiwang adalah Pangulu dan Matoa yang kemudian dilanjutkan dan dimotori oleh 5 serangkai, yaitu :
1. Pattolo'bali (Pattolo' Lipu)
2. Daenna Macirinnae
3. Parimuku
4. Mantaroso' Pattana Bone
5. Andi Mattona'

Lima serangkai ini bersama dengan Pangulu dan Matoa yang lebih menyempurnakan pembangunan Benteng Kayu Mangiwang dan dilengkapi dengan peralatan perang secukupnya. Setelah mereka merasa bahwa benteng tersebut sudah lengkap, baru mereka menghubungi Pitu Ulunna Salu untuk meminta partisipasinya didalam berjuang menentang penjajahan Belanda.

Datanglah serombongan Pa'barani (bhs. Ind. Pemberani) dari Mambi yang dipimpin oleh Pua' Indaya dan Pua' Labamusu' untuk bergabung dengan pasukan yang dipimpin 5 serangkai dari Kayu Mangiwang untuk dipersiapkan menghadapi serdadu Belanda.

Setelah mereka merasa segala persiapan sudah rampung, maka Pangulu sebagai Panglima Perang menyurat kepada pimpinan serdadu Belanda di Mamuju dan menyatakan bahwa : "KALAU SERDADU BELANDA MAU MENGAMBIL SENJATA SESUAI YANG TERCANTUM DALAM KORTE VERKLARING, SILAHKAN DATANG DI BENTENG KAYU MANGIWANG DI BUDONG-BUDONG"

Berdasarkan surat Pangulu tersebut, maka Belanda mempersiapkan satu kompi serdadu untuk datang ke Benteng Kayu Mangiwang, yang akhirnya, semua tentara yang satu kompi itu tewas akibat sergapan dari pasukan Benteng Kayu Mangiwang, kecuali pimpinan pasukannya saja yang masih hidup bernama Letnan Janggu'.

Disamping sedih Letnan Janggu' juga sangat malu dalam peristiwa itu, lalu Belanda meminta bantuan untuk melakukan ekspedisi yang kedua. Namun ekspedisi kedua ini juga musnah ditangan pasukan Kayu Mangiwang. Didatangkan lagi ekspedisi ketiga yang juga mengalami nasib yang sama, dan Belanda meningkatkan jumlah pasukannya secara berlipat ganda pada ekspedisi keempat. Namun ekspedisi keempat inipun tidak berdaya menghadapi taktik Pangulu dkk. Pasukan Benteng Kayu Mangiwang membuat jembatan yang menghubungkan sungai Budong-Budong dengan benteng dan setelah Belanda menyeberang jembatan tersebut dirobohkan dan serdadu Belanda tenggelam di sungai.

Lama berselang, Belanda tidak menyerang lagi Benteng Kayu Mangiwang dan pada akhirnya merencanakan ekspedisi kelima dengan menggunakan tentara pilihan mereka yang bernama MARSOSE. Pasukan Marsose ini menyerang Benteng Kayu Mangiwang dari belakang melalui Lu'mu'. Pasukan Marsose mengambil seorang rakyat di Lu'mu' untuk dijadikan penunjuk jalan. Dini hari menjelang Subuh, mereka tiba di Benteng Kayu Mangiwang dan mulai bertempur sehari suntuk.

Menjelang tengah hari, Marsose menghentikan perang untuk beristirahat. Sementara istirahat, Pattolo' Lipu bersama-sama dengan beberapa anggota pasukan membersihkan mayat-mayat yang sudah berbau busuk bergelimpangan disekitar benteng dan dibuang ke sungai. Berbarengan dengan itu, Pattolo' Lipu menemukan sebuah terompet mengkilap bagai emas lalu diambilnya dan diperlihatkan kepada kawan-kawannya. Mungkin Pattolo' Lipu terangsang oleh jiwa mudanya karena di antara 5 serangkai, Pattolo' Lipulah yang paling muda, sehingga ia selalu ingin membunyikan terompet itu, tapi dilarang oleh kawan-kawannya. Namun diam-diam Pattolo' Lipu keluar dari pintu lalu membunyikan terompet tersebut dengan bunyi yang tidak karuan. Akibatnya serdadu Marsose serentak tiba-tiba menyerang masuk ke benteng karena disangkanya tukang terompetnya dalam keadaan gawat, Pertempuran yang terjadi secara tiba-tiba itu berlangsung sengit dan tidak terkendali, mengakibatkan Daenna Macirinnae gugur dalam pertempuran ini, dan sekitar pukul 16.00 jatuhlah Benteng Kayu Mangiwang ditangan serdadu Marsose Belanda.

Pattana Bone bersama Pa'barani dari Mambi yakni Pua' Indaya dan Pua' Labamusu' sempat meloloskan diri dan berjalan terus tembus ke Kombiling dan Kamansi terus naik perahu menuju Pulau Karampuang dan bersemubnyi disana. Sedangkan dua Pa'barani dari Mambi, Pua' Indaya dan Pua' Labamusu' berjalan terus menembus hutan dan tiba di Lombang-Lombang. Sedangkan Parimuku masih sempat membunuh serdadu Marsose yang akhirnya beliaupun terbunuh oleh serdadu Marsose tersebut. Pattana Bone pada akhirnya diketahui diasingkan ke Pulau Jawa selama 15 tahun. Yang masih misterius keberadaannya ialah Pattolo' Lipu karena ternyata beliau tidak gugur dalam pertempuran itu, namun kabarnya ia ditangkap Belanda sesudah jatuhnya Benteng Kayu Mangiwang.
(Sumber : Buku SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN BANGSA DI MANDAR, oleh DRS. A.M. MANDRA, Penerbit PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN MAJENE, tahun 2002)


- Pilkada Sulbar
2017-02-04
Orasi Politik Syahrir Hamdani
2017-02-01
Pemanfaatan Teknologi, Cara SDK-Kalma Perbaiki Tatanan Birokrasi
2017-02-01
Hasil Pertemuan Aras Tammauni Dengan Megawati
- Berita Lainnya
2026-03-10
Sarina GMNI Cabang Mamuju Peringati Momentum Hari Perjuangan Perempuan
2026-03-10
Seni Melawan Sunyi: Perempuan Muda di Mamuju Rayakan IWD 2026 dengan Seni dan Refleksi Tubuh
2026-03-10
Timah Panas Hentikan Pelarian DPO Residivis Pelaku Curanmor Lintas Provinsi
2026-02-21
Ketum PP Muhammadiyah: Perubahan Struktur Polri Rawan Timbulkan Masalah Baru
2026-02-20
Dua Pria di Kalumpang Tewas Tertimbun Diduga di Lubang Tambang Emas
2026-02-15
Tak Kunjung Mekarkan Kota Madya Mamuju, Pemerintah Dinilai Langgar Undang-Undang
2026-02-15
Dualisme DPC GMNI Mamuju Berakhir, Dua Kubu Sepakat Bersatu Usai Konflik Sejak 2019
2026-02-13
Polisi Ungkap Kasus Curanmor Khusus Trail di Mamuju
2026-02-13
Tes Kesamaptaan Jasmani Polda Sulbar, Personel Antusias Jaga Kondisi Fisik
2026-02-12
Rikkes Berkala Polda Sulbar, Pastikan Kesehatan Prima Personel untuk Pelayanan yang Optimal
2026-02-12
Perkuat Meritokrasi, Polri Konsolidasikan Asesor Assessment Center
2026-02-11
Dialog Interaktif Operasi Keselamatan Marano di RRI Mamuju, Dirlantas: Fokus pada Budaya Tertib Berk
2026-02-11
LPS Media Meet Up, Upaya Edukasi Masyarakat Simpan Uang di Bank Dengan Aman
2026-02-10
Beri Arahan di Rapim Polri, Kapolri Tegaskan Dukung-Kawal Penuh Program Pemerintah
2026-02-10
Jamin Keamanan dan Keselamatan Berkendara, Ditlantas Polda Sulbar Gencarkan Pelayanan di Tengah Masy