Cerita Dari Seorang Awak Kereta

Wira Wahyu Utama | Penyunting

2017-10-18 | Dikunjungi: 1526 Kali
Di atas kereta ekonomi tujuan Jakarta, seorang pria dengan kacamata minus bertubuh ceking keasyikan cerita dengan seseorang yang sedang mengantuk dan belum ia kenal.
Sepintas deret perumahan terlihat mulai mengikis lahan sawah. Pemandangan itulah yang menemani dialog antara saya dan seorang bernama Slamet. Ia berprofesi sebagai `On trip cleaning service` di perusahaan jasa pelayanan fasilitas terkenal di Indonesia.

Awal mula, si pria kurus inilah yang membuka percakapan. "Di sini yah mas?," lalu dilanjut dengan pertanyaan "Mau kemana mas?," tanyanya dalam celatuk Jawa. Karena tak bisa berbahasa Jawa, saya jawab singkat saja "Saya dari Sulawesi mas, mau ke Jakarta," membalasnya.

Slamet terlihat bingung, dari raut wajah pria yang tingginya kira-kira tak sampai 160 cm itu, jelas ingin tahu kenapa orang dari Sulawesi mau ke Jakarta naik di stasiun Tugu. "Oh dari Surabaya yah Mas. Naik kapal?," lanjut Slamet. "Oh tidak. Saya lagi main ajah ke Jogja," menjawabnya.

Ia mengangguk dan kembali berbicara. "Di Jogja asik yah mas, banyak turis dan tempat-tempat bagus untuk berfoto," mendengar itu, saya juga membalas dengan mengangguk. Karena saya pikir jika meladeni Slamet, ikhtiar berisitirahat dalam perjalanan sambil mendengarkan playlist akan terganggu. Belum lagi, AC kereta Bogowonto kelas ekonomi ini, lebih adem dari ruang redaksi Tempo dan juga Warta Kota. Suasananya menunjang untuk `nyantai` seraya membena karya John Mayer, GIGI, Sandhy Sandoro, Noah, Andra&The Backbone, BCL, dan sesekali Eric Clapton, BB King, juga Gugun Blues Shelter.

Lepas dari itu, Slamet berhasil membuat kantuk saya hilang sementara, bahkan ia juga membawa saya ke dalam dunianya. Binggo! Buktinya, saya tak tega melihat dia duduk bengong, sekali lalu cemas menanti stasiun persinggahan. Karenanya, saya berinisiatif untuk membalikkan keadaan. Saya bertanya, si kerempeng ini yang menjawab.

Mas, Asli mana? "Saya dari Kutoarjo," jawabnya. Kutoarjo itu di mana mas? "Purworejo, Jawa Tengah," Oh di sana ada objek wisata yang bagus yah?

"Ada mas. Di sana ada salah satu Bedug terbesar di Dunia" katanya. Namanya, apa dan tempatnya di mana? " Bedug Pendowo, dekat alun-alun," Jawabnya. Karena belum puas, saya melanjutkan dengan mencecar sejumlah pertanyaan.

Mas sudah lama kerja di sini (Baca: Kereta Api) ? "Oh saya kerja kurang lebih baru dua bulan Mas," Sebelumnya di mana mas? " Saya nganggur mas, di rumah ajah," Oh gitu yah, memang di Kutoarjo itu, komoditinya apa saja? "Di Kutoarjo banyak sawah juga, sama dengan daerah lain," Kalau begitu, kenapa mas tidak kerja di sawah saja? "Saya ngak punya sawah mas," Katanya.

Tugas Mas Slamet di atas kereta sebenarnya apa sih? "Saya membersihkan Kereta mas," ucapnya sambil merapikan tas pinggang yang berisi perkakas kebersihan. Tak berselang lama, klakson khas kereta berbunyi, pertanda kereta akan singgah. Slamet lalu bergegas meninggalkan tempat duduk dan melanjutkan tugasnya.

Di dalam kereta yang saya tumpangi saat itu, Ia bersama empat orang lainnya bertugas membersihkan beberaoa gerbong (Kaca, Toilet, dsb) sekaligus memastikan setiap penumpang tidak ada yang tertinggal di setiap persinggahan stasiun. Mulai dari Lempuyangan, Tugu, Wates, Jenar, Kutoarjo, Kebumen, Gombong, Kroya, seterusnya dan berakhir di Pasar Senen.

Tak lama setelah kereta singgah, Slamet kembali ke tempat duduknya. Karena semakin penasaran, saya kembali memulai percakapan. Mas, maaf nih yah, saya mau tanya, gaji perbulan yang mas Slamet terima itu berapa? "Yah tidak jauh dari standar upah minimum lah mas," Berapa ? "sekitar 1.5 jutaan mas," ujarnya.

Mengetahui hal tersebut, naluri `kepo` saya semakin membabi buta. Saya lalu membuka laman internet dan mencari tahu upah minimum Provinsi Jogja, dan Jawa Tengah. Pas dapat, meski jaringan internet agak lelet, tapu saya berhasil menemukan beberapa artikel yang menyebutkan kalau apa yang dikatakan Slamet memang benar. Upah kerja kedua Provinsi ini berada pada kisaran angka yang terbilang rendah.

Mas, gaji segitu cukup yah, tanya saya lagi. "Yah, cukup-cukupkan sajalah mas. Kecilkan mas, padahal Jogja kota besar. Ngak kayak di Jakarta. Di sana tinggi kan mas?" Lanjutnya lalu bertanya balik.

"Belum tahu pastinya. Tapi Setahu saya di atas tiga jutaan mas. Tapi kan tidak bisa dibandingkan lurus begitu saja, tentu ada pertimbangan lain, kenapa upah minimum di suatu daerah bisa rendah dan lebih tinggi dari yang lain," jawab saya.

Dalam seminggu jam kerjanya berapa, dan apakah setiap hari bekerja seperti ini. Slamet menjawab, kalau ia hampir setiap hari beraktivitas di atas kereta. Jalur Jogjakarta-Jakarta dan sebaliknya. "Istirahatnya satu kali dalam seminggu. Hari libur saja. Ntar yah," kata Slamet yang mendadak pergi memakai masker, dan membawa wiper, juga lap kanebo.

Saat itu, saya sedikit kikuk, takutnya ia kurang senang setelah saya memberikan banyak pertanyaan. Namun, tak lama kemudian, peluit petugas kereta api terdengar dari kejauhan. Dugaan itu tak terbukti, ternyata tadi Slamet keasyikan ngobrol sampai hampir lupa kalau ia harus turun di Stasiun Jenar menunaikan pekerjaannya. Karena itu tadi ia mendugas pergi.

Kereta kembali melaju, dan Slamet kembali duduk. Namun kali ini saya tak lagi memberikan banyak pertanyaan. Di sini kami ngobrol lepas saja. Ia lebih banyak bercerita soal kampung halamannya, dan perjalanan hidupnya ketika mengenyam pendidikan. Begitupun dengan saya. Sesekali ia juga ngalor-ngidul soal pekerjaannya di atas kereta, sampai kemudian, kereta delapan gerbong itu, tiba di Stasiun Kebumen. Di stasiun ini ada seorang penumpang yang memiliki tiket untuk duduk persis di tempat Slamet.

Karenanya, sudah barang tentu Ia harus pindah ke gerbong lain dan duduk di kursi kosong, yang belum diisi penumpang lain. Percakapan dengan seorang yang baru saya kenal itu, sungguh menyenangkan. Sayangnya harus berakhir di Stasiun Kebumen. Padahal masih banyak yang ingin saya tahu darinya, terutama menyangkut kesabaran dalam bekerja dan bertanggung jawab pada profesi dengan upah yang sungguh memprihatinkan.

Tapi, "Sang pengatur waktu" tentu punya alasan sendiri, kenapa si kurus yang sepertinya baik hati itu, harus pindah ke tempat lain. Yang jelas, Ia mengajari saya makna lain dari sekedar sabar, yaitu "Kebersihan sebagian dari iman". Yaelah bro, serius amat nunggu pesan moralnya. Mmm. Tapi baiklah, pesannya; Karena Slamet, Saya akan terus berdialog dengan takdir.

Jakarta, Di ujung Juli 2017


- Pilkada Sulbar
2017-02-04
Orasi Politik Syahrir Hamdani
2017-02-01
Pemanfaatan Teknologi, Cara SDK-Kalma Perbaiki Tatanan Birokrasi
2017-02-01
Hasil Pertemuan Aras Tammauni Dengan Megawati
- Berita Lainnya
2026-03-10
Sarina GMNI Cabang Mamuju Peringati Momentum Hari Perjuangan Perempuan
2026-03-10
Seni Melawan Sunyi: Perempuan Muda di Mamuju Rayakan IWD 2026 dengan Seni dan Refleksi Tubuh
2026-03-10
Timah Panas Hentikan Pelarian DPO Residivis Pelaku Curanmor Lintas Provinsi
2026-02-21
Ketum PP Muhammadiyah: Perubahan Struktur Polri Rawan Timbulkan Masalah Baru
2026-02-20
Dua Pria di Kalumpang Tewas Tertimbun Diduga di Lubang Tambang Emas
2026-02-15
Tak Kunjung Mekarkan Kota Madya Mamuju, Pemerintah Dinilai Langgar Undang-Undang
2026-02-15
Dualisme DPC GMNI Mamuju Berakhir, Dua Kubu Sepakat Bersatu Usai Konflik Sejak 2019
2026-02-13
Polisi Ungkap Kasus Curanmor Khusus Trail di Mamuju
2026-02-13
Tes Kesamaptaan Jasmani Polda Sulbar, Personel Antusias Jaga Kondisi Fisik
2026-02-12
Rikkes Berkala Polda Sulbar, Pastikan Kesehatan Prima Personel untuk Pelayanan yang Optimal
2026-02-12
Perkuat Meritokrasi, Polri Konsolidasikan Asesor Assessment Center
2026-02-11
Dialog Interaktif Operasi Keselamatan Marano di RRI Mamuju, Dirlantas: Fokus pada Budaya Tertib Berk
2026-02-11
LPS Media Meet Up, Upaya Edukasi Masyarakat Simpan Uang di Bank Dengan Aman
2026-02-10
Beri Arahan di Rapim Polri, Kapolri Tegaskan Dukung-Kawal Penuh Program Pemerintah
2026-02-10
Jamin Keamanan dan Keselamatan Berkendara, Ditlantas Polda Sulbar Gencarkan Pelayanan di Tengah Masy