Calo Ammana I Wewang Bagian I
Kamis, 03 November 2011, Pukul: 06:13:18 | Dikunjungi: 3710 Kali
Tahun 1905 Belanda memulai politik penjajahannya yang merupakan maksud
utama kedatangannya di Indonesia. Tahun itupula Belanda telah
mengingkari perjanjian. Akibatnya Ajuara Arayang Pamboang, Kaco' Puang
Ammana I Pattolawali dan Calo' Ammana I Wewang mengadakan
pemberontakan. Menyusul pemberontakan La'langi Parimuku dan Pattolo'
Pattana Sompa' dari Mamuju.
Pada hari-hari pertama Ammana I Wewang, Ammana I Pattolawali
berhasil membakar tangsi (Boyang Sowa') di Majene dan merampas
sebanyak 80 pucuk senjata dan menawan seorang juru tulis
Belanda.
Dengan pertimbangan kekuatan tidak seimbang, maka ada diantara
anggota Hadat Banggae yang tidak menyetujui pemberontakan itu. Dengan
segala alat-alat perlengkapan perang dan beberapa anggota Hadat
Banggae, berangkatlah ke Pamboang untuk menyusun kekuatan yang lebih
besar. Menurut perhitungan ditinjau dari sudut Pertahanan Militer,
Pamboang sangat strategis apalagi dengan BETTENGNYA di Galung Adolang
yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ditinjau dari segi perlengkapan
perang sangat cocok karena pedagang-pedagang di Pamboang sudah kenal
dengan Singapura. Dilihat dari segi kekompakan Raja, Hadat dan
Rakyatnya ada labih baik dari pada Banggae. Ditinjau dari supply
makanan lebih dekat dengan kerajaan Sendana, kerajaan terbanyak
makanannya pada masa itu, yang Rajanya bernama I RUKKA LUMU dari tahun
1903-1907. Sesuai dengan struktur TAMMAJARRA, kerajaan Senada adalah
KINDO' yang senantiasa bersedia memberi makanan kepada anak-anaknya
bila menghendaki atau menghadapi kesulitan.
Setibanya di Pamboang segera mengadakan perundingan dengan
Pallayaran Tallunna Pamboang termasuk seluruh Pappuangan, mengenai
tindakan yang harus diambil bila Belanda menyerang Pamboang.
Diputuskan – ditetapkan :
- Sejengkalpun tanah tersisa di Pamboang – Mandar, akan kita
pertahankan sampai tetesan darah yang terakhir.
- Kalah perang di pantai, kita mundur ke Betteng Galung Adolang sebagai pusat pertahanan dan gerilya.
- Semua yang dianggap tidak membantu perjuangan, diambil
hartanya untuk biaya perjuangan, yang melawan dibunuh.
Hari yang tak diketahui tanggalnya, Belanda mengirim utusan ke
Pamboang untuk menemui Raja (Arayang) mengenai pendiriannya. Arayang
Pamboang Ajuara yang diapit oleh menantu dan sepupu sekalinya yaitu
Ammana I Pattolawali dan Ammana I Wewang menjawab: "Tidak ada jalan
untuk kompromi apalagi untuk menyerah"
Pada hari H, Belanda mulai menyerang Pamboang melalui Banggae dan
dibantu oleh serdadu yang naik Kapal Putih (Kapal Perang) dari laut,
yang diperlengkapi dengan meriam yang belum pernah di lihat dan di
dengar semacamnya oleh rakyat Pamboang. Dari laut sebelum meriam kapal
itu meletus, sirenenya dibunyikan sebanyak 3 kali. Secara spontan
pasukan Ammana I Pattolawali membalas dengan bunyi meriam 3 kali pula
dan serentetan bunyi senjata yang kecil-kecil. Serdadu yang dari kapal
itu khusus didatangkan dari Betawi melalui Menado, Palu dan
Donggala.
Dari kapal Belanda berbunyilah meriam otomatis dan senjata-senjata
berat lainnya. Menurut keterangan Ibu Kandung Penulis (ANDI SYAIFUL
SINRANG) yang masih hidup sejak terbitnya buku (MENGENAL MANDAR
SEKILAS LINTAS) ini yang merupakan sumber utama dari penulisan sejarah
ini menyatakan :
- Kebanyakan serdadu Belanda itu terdiri dari bangsa kita sendiri yaitu : Ambon, Menado dan Jawa.
- Karena ketakutan yang berlebihan mendengar bunyi meriam
itu, maka orang-orang (non militer) yang sedang buang air besar tak
ingat lagi untuk bercuci langsung melarikan diri.
Serdadu yang dari kapal Belanda mendarat sudah. Pasukan Mara'dia
Malolo bermaksud untuk bertahan di Pantai Pamboang, tetapi Ajuara
Arayang Pamboang membuat kebijaksanaan khusus untuk menghindarkan
pengorbanan rakyat biasa yaitu "Kita harus mundur ke Betteng Galung,
nanti disana kita bertahan mati-matian" Kebijaksanaan ini berkenan di
hati kedua Pahlawan itu. Maka mundurlah mereka bersama pasukannya
secara jantan (bah. Mandar malai tommuanei). Dengan semangat baja, TRI
TUNGGAL ini yaitu : Ajuara Arayang Pamboang, Kaco' Puang Mara'dia
Malolo Banggae, dan I Latta Permaisuri Kerajaan Pamboang, tiba dengan
selamat di Betteng Galung.
Berkali-kali Belanda mengirim Delegasi ke Galung untuk mengajak
berdamai tetapi tidak berhasil. Tri Tunggal dan beberapa orang
pengikutnya termasuk Kura'da Puang Tondo' Pa'bicara Adolang dan Daenna
I Hama' memilih mati daripada bekerjasama dengan Belanda apalagi
dikatakan menyerah. Mereka malu mengingkari pasang (kata semula) yang
berbunyi : "Ropo'o mai bulang, tililimo'o sau buttu, tannaulele diuru
pura loau" artinya "Sekiranya langit boleh runtuh, yah…runtuhlah;
Gunung bisa terbang, ya…terbanglah; tetapi saya tidak akan beranjak
sedikitpun dari kata semula" (BERSAMBUNG)
(Sumber : Buku
MENGENAL MANDAR SEKILAS LINTAS, oleh ANDI SYAIFUL SINRANG, Penerbit
Group "Tipalayo" Polemaju Mandar, tahun 1980, halaman 39 s/d 46)