10 November dan Santri Yang Terlupakan
2014-11-10 | Dikunjungi: 2061 Kali
Mamuju.
Hampir tiap tahun kita memperingati Hari Pahlawan, tepatnya 10
November. Kita sebagai anak bangsa wajib mengingat bagaimana perjuangan
para pahlawan kita yang memperjuangkan kemerdekaan hingga titik darah
penghabisan.
Peristiwa tersebut merupakan perang antara Indonesia
melawan Belanda di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah
perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam
sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas
perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Penyebab terjadinya perang itu adalah mendaratnya tentara Jepang di
pulau jawa pada tanggal 1 Maret 1942 dan pada tanggal 8 Maret 1942
pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang
berdasarkan perjanjian kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat
tersebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.
Tiga tahun
kemudian Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tepat pada
tanggal 17 Agustus 2014 di karenakan Jepang menyerah tanpa syarat kepada
sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di
Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945.
Sehingga terjadi kekosongan dari pihak asing.
Setelah Jepang Menyerah, pasukan Sekutu dan Belanda tiba di
Surabaya, Soekarno menemui KH Hasyim Asyari dan atas permintaan sang
tokoh NU itulah, umat Islam, khususnya warga pesantren tidak segan-segan
bertempur di medan perang.
“Kiai, dos pundi Inggris datang niku, gimana umat Islam
menyikapinya,†tanya Soekarno kepada KH Hasyim Asyari. Mendapat
pertanyaan tersebut, KH Hasyim Asy’ari menjawab dengan tegas. “Lho Bung,
umat Islam jihad fisabilillah untuk NKRI, ini Perintah Perang!†ujar
Zaini menirukan dialog dua pahlawan nasional tersebut.
Usai pertemuan itu, dikisahkan KH. Hasyim Asyari memanggil Kiai
Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya untuk
mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk
segera mengadakan rapat darurat, dipimpin Kiai Wahab Chasbullah.
Hasilnya, pada 23 Oktober, KH Hasyim Asyari mendeklarasikan seruan
jihad fi sabilillah yang terkenal dengan istilah Resolusi Jihad. Segera
setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas
pasukan non regular pasukan Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal
menunggu komando.
"Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan
senjata. Pada kondisi ini pesantren-pesantren didatangi para pejuang
dari berbagai kalangan untuk meminta kesaktian para kiai untuk
menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan persenjataan beratnya.
Ribuan kiai dan santri dari Jawa dan Madura mulai bergerak ke Surabaya,â€
paparnya.
Dijelaskan, Bung Karno sengaja menemui KH Hasyim Asyari karena
pengaruhnya yang sangat besar di kalangan umat Islam. Selain itu,
pasukan PETA yang terbentuk saat itu semua komandan batalyonnya adalah
ulama. Di antaranya Panglima Divisi Suropati Kiai Imam Sujai, Divisi
Ranggalawe Panglimanya Jatikusumo, kemudian di Jawa Barat komandan
resimennya Kiai Haji Noor Ali.
Pilihan Soekarno menemui K.H Hasyim Asyari tepat, karena mampu
menggerakkan umat Islam saat itu. Dampak perangnya pun luar biasa,
pertempuran Surabaya bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa
mati-matian berperang karena perintah jihad tadi. Sehingga, hari
Pahlawan 10 November tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad NU.
Sampai saat ini kita hanya mendengar dan mempelajari kisah 10
November di mana perang antara tentara Nasional Indonesia dengan pihak
penjajah, mulai dari peristiwa kedatangan tentara sekutu di Jakarta dan
Surabaya dan peristiwa Hotel Yamato di Surabaya, hanya sedikit yang
menceritakan tentang kisah para kiayi dan para santri yang rela
mengorbankan Jiwa dan raganya untuk memperjuangkan kemerdekaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
(Wahyu Setiawan/Ketua Umum PMII Mamuju )