Mamuju, Petani Kakao tak lagi bisa diandalkan



Panji Wijaya | Reporter

Bukan Manusia Millenium, namun namanya terobsesi dari Super Hero Indonesia, Panji Manusia Millenium.
"Manusia harus memposisikan dirinya sebagai manusia"PW
2017-03-28 | Dikunjungi: 52 Kali
Mamuju (malaqbi.com) -Tidak tau harus bagaimana para petani kakao di sulbar, termasuk kabupaten Mamuju, kec. Kalukku akan mampu bertahan lagi.
Salah seorang dari petani kakao dari kalukku yang memiliki sekitar 2 hektar tanam kakao kini di tidak terlewat lagi.
Jika di liat dari tanaman kakao yg ada di kalukku. dikalangan masyrakat sangat memperihatinkan. Tanaman kakao tak lagi menjadi andalan masyrakat mamuju.
Seperti dari hasil wawan tim malaqbi.com, (29.03.2017)  secara langsung  di petani dari sepuluh responden, rata rata mereka memilih meninggalkan tanam kakao, yang dianggap tidak lagi bisa diandalkan. Dan lainnya masih bisa merawatnya akan tetapi nanti mendekati panen baru melihat nya.
Sungguh di sayangkan sedangkan bulan lalu dari Universitas pajajaran telah melakukan penelitian terkait, menggunakan obat -obatan yang berbahaya seperti pestisida mengatakan kami dapat mengambil kesimpulan bahwasanya para petani kakao di mamuju sudah sangat mengerti bahaya pestisida. 

"Alhamdulilah... ada kesimpulan juga. Bahwasanya petani Kakao di Mamuju sudah sangat mengerti bahaya pestisida dibandingkan wilayaj lainnya pencegahan obat-obatan, menilai bahwa para petani kakao di mamuju cukup mengenal obat dan cara mengatasinya." Cecep (sapaan akrabnya)

Selain itu para peneliti ini melalui akun Grup WA, dirinya salut dengan para petani kakao Mamuju yang mampu menangani bahaya pestisida dan sangat mampu. 
"Penanganan bahaya pestisida pun, para petani di Mamuju sudah sangat mampu. Pertahankan itu." Lanjutnya

Dulu tanaman kakao sangat menjanjikan betapa tidak, para petani kakao mamuju mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai selesai selesai di perguruan tinggi, di makassar, namun apa daya kini tak lagi mampu menutupi kebutuhan hidup mereka.
Sedangkan Para petani kakao saat beralih menjadi buruh bangunan, nelayan dan memilih antri menunggu mobil  truk pengangkut pasir, yang  mereka lebih dapat dilihat hasilnya.
Menurutnya meraka dalam sehari mampu menghasilkan 3.5000 sampai 50.000 perhari, di bandingkan dengan mengelola kakao yang semakin hari semakin tidak jelas hasilnya.
Penyebab para petani ini beralih proporsi, di karenakan, hama yang sering menghantam tanaman kakao, sehingga hasil buah menjadi hitam, susah di kuluti dan buah yang dihasilkannya menjadi ringan.
Memang dulu ada sistem pembelajaran yang mereka dapat  pendidikan kakao yang di adakan oleh Unicef dikalangan para petani kakao hanya beberapa bulan saja sehingga mereka tidak terlalu paham dengan pengelolaan dengan baik.
Bahkan mereka menganggap bahwa sekolah kakao yang mereka lakukan sudah lupa, sebab tidak secara berkelanjutan.
Di mana perang pemerintah saat petani kakao mengeluh, bagaimana solusi pemerintah mengatasi persoalan para petani. 
Puluhan ribu petani  sulbar menggantungkan hidupnya di kakao, dan ribuan petani kakao terancam punah, disebabkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap para petani kakao.

Copyright @2011-2016 malaqbicom, All Rights Reserved :: Redaksi | Pedoman Media Siber | Iklan | Disclaimer