Mahasiswa Sebut Kekerasan Di Rohingya Adalah Konflik Ekonomi Politik

Foto: Sejumlah mahasiswa saat gelar kasi terkait kasus kekerasan yang terjadi di Rohingya Myanmar


Nasrullah | Pemimpin Redaksi

Lahir di Ujung Utara Mamuju. Pecinta Sheila on 7
2017-09-06 | Dikunjungi: 142 Kali
MAMUJU (malaqbi.com) Kasus kekerasan yang terjadi di Rohingya Myanmar, membuat mahasiswa di Indonesia bereaksi. Tak terkecuali dari Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam "Aliansi Pemuda Sulbar Peduli Kemanusiaan" menggelar aksi unjuk rasa.

Aksi yang diwarnai dengan orasi secara bergantian tersebut, para pengunjuk rasa melakukan long march dari tribun lapangan Ahmad Kirang Mamuju menyusuri Jalan A Pettarani, menuju halaman Gedung DPRD Mamuju.

Dalam aksinya mahasiswa menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak terprovokasi atas konflik kekerasan yang terjadi di Rohingya. Apa yang terjadi di Rohingya bukanlah terkait konflik agama melainkan konflik ekonomi politik.

"Konflik yang terjadi di rohingya bukan hanya diakibatkan isu politik tetapi salah satunya karena memiliki sumber daya alam yang berlimpah,"ucap Koordinator Aksi Wais Walkorni, Rabu 6 September

Olehnya itu mahasiswa meminta secara tegas kepada pemerintah agar menjadi meditor perdamaian konflik Rohingya.

"Bapak Jokowi harus mampu menjadi mediator pada konflik tersebut karena ini menyangkut perdamaian dunia, serta mencabut diplomasi dan mengusir kedutaan Myanmar yang ada di Indonesia "tegas Wais saat orasi di halaman Gedung DPRD Mamuju. (**)

Copyright @2011-2016 malaqbicom, All Rights Reserved :: Redaksi | Pedoman Media Siber | Iklan | Disclaimer