Kakanwil Sulbar Apresiasi GPMKS Program Kemenpora Ini

Pembacaan kitab suci bersama oleh beberapa agama di Mamuju Sulawesi Barat (Foto/Nasrullah)


Nasrullah | Pemimpin Redaksi

Lahir di Ujung Utara Mamuju. Pecinta Sheila on 7
2017-11-14 | Dikunjungi: 50 Kali
MAMUJU (malaqbi.com) Dalam rangka mendukung program pada rangkaian acara Kirab Pemuda 2017 yang tengah digelorakan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Menpora) saat ini di 34 titik Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, Gerakan Pemuda Membaca Kitab Suci (GPMKS) juga dilaksanakan di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar)

Kegiatan GPMKS ini dimaksudkan Menpora untuk memupuk kebhinekaan dikalangan pemuda tanpa memandang suku, ras dan agama yang berbeda, GPMKS juga untuk membangun tanggung jawab besar dan menyatukan pemuda yang berasal dari enam agama di Indonesia.

"Kegiatan ini adalah langkah awal Kemenpora untuk meningkatkan partisipasi kaum muda dalam kegiatan kegamaan masing-masing. Disaat bersamaan ada momen Kirap pemuda 2017, dimana para pemuda dari 34 provinsi dengan latar belakang keyakinan agama yang berbeda-beda tengah berkumpul menyuarakan seamagat berani bersatu di tengah kebhinekaan. Ini menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat saling menghormati ditengah perbedaan keyakinan yang ada,"Demikian kata Menpora, Imam Nahrawi

Sementara itu, dikatakan Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Barat, H. Muhdin, yang turut hadir pada acara GPMKS yang dilaksanakan di aula asrama haji Mamuju, Selasa 14 November, mengatakan, gerakan GPMKS tersebut sangat diapresiasi sebab dengan melakuan pembacaan kitab suci bersama dapat saling memahami tentang perbedaan agama.

"Gerakan ini kita bisa saling memahami antara satu perbedaan dengan yang lain khususnya dalam hal membaca kitab, sehingga muncul kesadaran bersama bahwa memang ternyata perbedaan memang harus ada,"jelas Muhdin

Selain itu, kata Muhdin, tata cara pembacaan kitab suci juga belum pernah diperdengarkan secara bersama, sehingga pada momentum seperti ini adalah momen untuk saling mendengarkan tata cara pembacaan kitab suci masing-masing agama yang ada di Indonesia.

"Nah, oleh kita yang hadir pada hari ini, khususnya Islam, kan tidak pernah dengar, dan pada hari ini sudah dengar, akhirnya ada kesadaran bersama bahwa ouh ternyata begini. Karena persoalan yang muncul kemudian itu ketika simbol agama yang terganggu. Dan mestinya selalu dilakukan kegiatan seperti ini untuk menyadarkan kita bersama bahwa ternyata perbedaan budaya, perbedaan agama tidak mengurangi nilai untuk kita bersama dalam rangkah memajukan daerah ini, karena toh pada akhirnya yang menetukan keyakinan itu kan bukan kita tapi Tuhan yang maha kuasa."ungkap Muhdin. (Nas)

Copyright @2011-2016 malaqbicom, All Rights Reserved :: Redaksi | Pedoman Media Siber | Iklan | Disclaimer