Gerakan Sosial Kembali Pada Nilai-Nilai Budaya



Malaqbi.com | Redaksi

2015-03-23 | Dikunjungi: 2421 Kali
Dengan melihat perkembangan zaman serta kemajuan peradaban, Budaya Manakarra menjadi kekuatan sendiri dalam membangun dan menuju kemajuan sebagai Kota yang berbudaya. Saat ini di tengah-tengah masyarakat kita, sedang berlangsung perubahan sosial, bahkan sebelum berdirinya Sulawesi Barat yang semakin membuka pintu kemajuan di setiap daerah, yang tidak lain Mamuju salah satunya.

Misalnya, pada bidang kebudayaan sejak lama mencari model- model perkawinan alternatif sehingga terjadinya akulturasi budaya antara budaya satu dengan budaya yang lainya, yang secara berangsur-angsur masuk ke wilayah Mamuju. Bahkan dalam melihat perkembangan perubahan sosial kita akan mengetahui perbincangan mengenai faktor-faktor yang menimbulkan perubahan sosial, agen-agen perubahan sosial (agents of social change) itu, berapa lama perubahan pemahaman budaya itu terjadi, dari yang tidak mengetahui sampai yang mengetahui yang tentu juga dampak dari perubahan itu.

Menurut Max Weber dalam bukunya Sociology of religion dan The protestant ethic and the spirit of capitalism banyak menekankan pengaruh ide dan pemikiran individu terhadap suatu masyarakat. Maka sudah seharusnya ada suatu gerakan perubahan sosial kembali ke nilai-nilai budaya yang di relevansikan dengan kemajuan peradaban, dengan langkah awal penyadaran untuk setiap individu, di mulai dari bangku sekolah sampai ke masyarakat pada umumnya sehingga terbentuknya kontruksi pemikiran berlatar belakang budaya.

Masyarakat mempunyai kebudayaan dan peradaban yang di kembangkan dari kebudayaan dan peradaban dari pendahulunya yang secara terus menerus dikembangkan dalam berbagai periode, merupakan suatu realitas tunggal dalam sejarah yang beralih dari tangan ke tangan berbagai daerah bahkan bangsa sekalipun berpindah – pindah melampaui batasan geografis. Kebudayaan etnis terdiri atas keseluruhan produk-produk dan kekayaan-kekayaan untuk setiap daerah yang nantinya akan menjadi identitas daerah. Aime Casaire berpendapat bahwa kebudayaan adalah aspek etnis dari peradaban, sedang peradaban adalah aspek umum dari budaya.

Ali Syari`ati dalam bukunya Ideologi kaum intelektual mengatakan "Saya mengkrtik idividu-individu yang mengkonsumsi budaya-budaya serta industri eropa tanpa daya kritik dan analisa yang tajam sehingga menjadi peniru dan budak-budak industri eropa". Bagaimana masyarakat Mamuju untuk tetap mempertahankan kepribadiaan Mamuju sebagai daerah yang berbudaya sehingga kontruksi sosial yang terbangun bukan menjadi masyarakat yang pengasimilasi serta peniru, jika itu terjadi maka masyarakat pada umumnya akan cendrung menjadi konsumen atau peniru dari kepribadian budaya yang lain sehingga eksistensi budaya kita menjadi terancam sebab dari lebih senangnya masyarakat mengkonsumsi budaya serta kearifan budaya yang lain, tentunya dari masalah yang kita anggap kompleks ini perlu perhatian khusus dari pemerintahan.

Kita dapat memanfaatkan barang-barang milik peradaban manusia baik dari timur maupun dari barat tetapi ini sangatlah tidak berlaku bagi kebudayaan yang merupakan manifestasi kesadaran kolektif Manakarra yang datang sejak masa lampau, kelanjutan evolusi kemasyarakatan dan mesti terus bernafas dalam atmosfir kebudayaan Manakarra sehingga arahnya lebih kepada mempertahankan serta menunjukkan eksistensi budaya sebagai identitas Mamuju.

Sebetulnya, perkara yang harus kita selesaikan ialah bagaimana budaya Manakarra tetap terjaga eksistensinya di tengah-tengah kemajuan peradaban umat manusia, yang tentunya mengancam eksistensi budaya Manakarra sebagai identitas Mamuju, ada banyak konsep untuk memecahkan persoalan tersebut yang bisa kita sebut Development, adalah proses sosial yang direncanakan atau direkayasa. Yang tidak lain untuk menyamaratakan pembangunan, moderenisasi serta mempertahankan kultur sebagai identitas, sehingga keseimbangan dalam melakukan perubahan sosial itu memunculkan ciri khas Mamuju sebagai daerah yang berbudaya.

Selain dari Development bisa juga kita sebut People`s power, people`s power merupakan bagian dari power strategy perubahan sosial dengan kekuasaan maksudnya disini ialah bagaimana pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan terobosan, ini lebih kepada arah kebijakan pemerintah dalam memandang eksistensi budaya sebagai identitas Mamuju. Strategi yang lainya bisa kita sebut dengan persuasive strategy yaitu memafaatkan media massa sebagai alat pengkampanyean budaya dan ada juga normative reeducative yaitu membuat aturan dari pihak lembaga adat sesuai Peraturan daerah  Kabupaten mamuju Nomor 17 tahun 2001 tentang lembaga adat.

Akan tetapi, lebih dari itu semua, kita harus memperbaiki cara berfikir dalam memandang eksistensi budaya, sehingga budaya Manakarra minimal tercamkan pada setiap diri individu. Sebelum ini, saya menggunakan istilah individual problem dan social problem, untuk selanjutnya kata individual diganti saja dengan personal. Suatu masalah bisa kita lihat sebagai masalah sosial ataupun personal sebab tolak ukur individu untuk mengetahui serta sadar akan nilai-nilai budaya yaitu terletak pada dirinya sendiri begitu pula pada masyarakat, ketika individu-individu dalam suatu masyarakat tidak mempunyai kesadaran akan budaya maka kontruksi sosial di tempat tersebut menjadi barang pasti minim pengetahuan tentang nilai- nilai budaya, ambil contoh siri`.

Pemberdayaan, pelestarian, dan pengembangan adat istiadat dan pembentukan lembaga adat telah mendapat perhatian PemKab.Mamuju melalui penetapan Perda No.17 tahun 2001, namun sayang sekali dengan adanya perda ini tidak mampu kita maksimalkan memperkokoh pengetahuan masyarakat tentang budaya Mamuju serta mempertahankan kearifan lokal daerah. Kita dapat menemukan jalan yang benar serta menyelamatkan eksistensi budaya kita dalam ancaman global, sekali rakyat diberi suatu keyakinan dan enerji baru, kegairahanpun akan terbangkitkan dan kebudayaan akan kita jaga. Manakarra Makkarama.

HAIRIL AMRI
Mahasiswa Fak.Hukum UMY .
BIDANG SDM IPMAJU JOGJAKARTA

Copyright @2011-2016 malaqbicom, All Rights Reserved :: Redaksi | Pedoman Media Siber | Iklan | Disclaimer