Apa Kabar Pendidikan?



Delukman Asri | Kolumnis

Alumni pasca sarjana Universitas Hasanuddinn Makassar, Dosen muda dan suka menulis
2016-11-29 | Dikunjungi: 898 Kali
Manusia adalah mahluk yang secara sistematis sempurna bila dilihat dari organ tubuh dan rasa. Klaim kesempurnaan manusia diaminkan oleh semua lembaga kehidupan yang essential seperti agama, adat istiadat dan lembaga kehidupan lainnya. Manusia dituntut agar mampu menjadi center of life atau yang lebih sering disebut sebagai life center, dimana manusia dituntut untuk mengontrol semua sendi-sendi kehidupan.

Demi menggapai pusat kontrol itu, maka manusia harus belajar dan mempelajari setiap detail sendi-sendi kehidupan. Manusia harus mampu membaca apa yang telah dikaruniakan oleh Pencipta alam semesta melalui alam. Alam dan kehidupan adalah daya magnet kehidupan manusia yang saling menarik. Manusia belajar dari alam dan apa yang terjadi di alam.

Salah satu contoh yang sangat popular dalam masyarakat adalah apa yang dibawa oleh tiga agama ibrani dalam proses pertikaian Habil dan Kabil, anak Adam. Saat membunuh saudaranya, salah satu diantara mereka menguburkan saudaranya dengan melihat contoh dari burung gagak. Selanjutnya, bagaimana manusia terinsprasi dengan burung yang bisa terbang, terinspirasi banyak hal yang bersumber dari alam semesta. Sejak semula manusia belajar, oleh sebab itu manusia kemudian mewarisi apa yang mereka dapatkan pada anak dan genereasi selanjutnya, hingga tercipta pendidikan generesi ke generasi.

Pendidikan dalam artian yang sederhana adalah proses belajar mengajar yang melibatkan pengajar (guru) dan peserta didik (siswa) diskursus formal. Dalam proses ini guru memegang peran penting, dimana setiap siswa yang menjadi peserta didiknya akan lebih cenderung mengikuti apa yang gurunya perintahkan. Bahkan tidak sedikit diantara siswa yang men-tuhan-kan gurunya sehingga mereka menjadi representasi nyata gurunya atau meneruskan cita-cita sang guru.

Sebut saja Presiden ke empat RI Abdul Rahman Wahid, beliau bukan hanya menjadi pemimpin Negara, tetapi panutan bagi banyak orang-orang yang sepakat dan fanatik pada beliau. Seperti gerakan yang mengatasnamakan Gusdurian. Tokoh lain Ahmad Dahlan, cita-citanya dalam Muhammadiyah, di Sulawasi sebut saja K.H. Ambo Dalle dalam Darud Dakwah wal- Irsyad (DDI). Para murid merasa sangat terpanggil untuk meneruskan cita-cita luhur sang guru.

Apa yang telah dilakukan sang murid diatas tidak terlihat pada tokoh besar dunia seperti Adolf Hitler, Aristoteles, dan Albert Einsten.  Siapa yang menyangka seorang siswa yang lambat berkembang dalam disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah dan memiliki kekurangan fisik, yang bermimpi menjadi bagian dari militer, akhirnya mampu mengontrol militer dan menjadi pembunuh yang sangat mematikan--Adolf Hitler.

Murid dari seorang pilsuf besar Yunani, Plato. Akhirnya berlawanan gagasan dengan sang guru, Aristoteles. Serta manusia yang lambat berbicara yang akhirnya menjadi ilmuan besar, Einsten. Jelas, mereka bukanlah manusia yang memperlihatkan gejala gemilang saat duduk dalam pasungan pendidikan formal, tetapi mereka besar dalam pemikiran dan insting liar yang tak terbatas. Ada apa dengan pendidikan mereka?

Bukankah pendidikan adalah fondasi dasar atau azimat peramal masa depan? Bukankah pendidikan akan menentukan masa depan?. Nyatanya di Indonesia, dalam sebuah penelitian menyebutkan 80% sarjana tidak bekerja sesuai dengan bidang ilmu yang mereka geluti selama dibangku kuliah (mungkin ada contoh yang lebih dekat disekitar kita). Ada apa dengan pendidikan? bagaimana dengan mereka yang tidak lulus sekolah tetapi mampu berjaya, Henry Ford dan Al Pacino misalnya.

Ada apa dengan pendidikan? bukankah pendidikan sangat penting dalam setiap Negara, hingga Negara yang kita cintai ini harus menerapkan wajib pendidikan yang pernah diterapkan jauh sebelumnya di Amerika serikat. Dalam keseharian, kita disuguhi dengan berbagai macam kemampuan kaum-kaum ningrat dan terpelajar yang mampu berjaya diatas pendidikan mereka.

Mari sedikit saja kita melihat bagaimana pendidikan atau lebih pantasnya Negara (sebagai control dan pemegang kekuasaan, bukan kebijakan) memperlakukan rakyatnya. Membicarakan hal tersebut kita harus berani menyimpan dengan rapi rasa hormat yang terdalam pada guru-guru kita yang tercinta, karena nilai kritis akan lebih kritis jika rasa hormat itu kita simpan dengan rapi.

Sebuah surat balasan dari suku Indian (pribumi tanah Amerika/Virgin land) saat Universitas  William dan Mary (1744) yang mengajak anak-anak suku Indian untuk “Menikmati pendidikan klasik yang layak” yang dikutip kembali oleh Benjamin Franklin: Mereka membalas yang intinya mereka menghargai usaha universitas untuk memberikan pendidikan yang mereka katakan layak, tapi apalah guna pendidikan yang layak itu, jika anak-anak suku Indian yang telah selesai di universitas tidak mampu melakukan tugas-tugas adat dan tidak memahami adat.

Diakhir surat tersebut tertulis dalam terjemahan bahasa Indonesia “Kami bukan tanpa rasa syukur atas tawaran baik tuan, terpaksa kami menolaknya dan untuk menunjukkan kepada anda bagaimana penalaran kami, kami usulkan pada tuan mengirim selusin anak-anak lelaki tuan kepada kami, agar kami dapat mengurus pendidikan mereka ini, mengajarkan kepada mereka segala hal yang kami ketahui dan membentuk mereka menjadi manusia sejati” (Freire, Paulo dkk, 2015).

Dengan dasar bahwa ilmu yang didapatkan disekolah haruslah berguna bagi mereka dan masyarakat. Tidak ada gunanya bagi mereka pendidikan tinggi (universitas) jika dalam praktiknya ilmu tersebut tidak berguna bagi masyarakatnya. Apa yang dikatakan oleh suku Indian adalah hasil dari pengamatan mereka dari apa yang telah mereka saksikan.

Anak-anak yang telah selesai dari universitas dan kembali ke komunitas mereka, mereka tidak mampu menjadi pelari yang hebat, tidak tahu membangun kabin, tidak mampu menahan dingin, tidak mampu bertahan dari rasa lapar dan tidak bisa memburu rusa. Dalam kasus ini, ilmu-ilmu yang diajarkan di universitas tidak bekerja sebagaimana mestinya. Bagaimana dengan kasus dalam lingkungan sekitar kita? Yah, sedikit banyaknya sama. Itulah sebabnya banyak alumni dari universitas yang tidak menduduki sebuah posisi berdasarkan disipin ilmunya karena salah satu indikator penyebabnya adalah gagalnya sebuah system. Ada lulusan perikanan tapi akhirnya harus bekerja di Marketing bank, lulusan sastra harus bekerja di marketing kendaraan bermotor, lulusan hukum harus bekerja di marketing sebuah perusahaan perumahan, dan masih banyak lagi. Faktor lain yang berpengaruh adalah lapangan kerja, bisnis dan universitas.

Pernahkah pemerintah melihat sisi-sisi kecil disudut negeri yang seharusnya berelasi dengan sistem pendidikan. Bukan hanya mengganti kurikulum sebagai sistem dan meningkatkan kualitas guru melalui sertifikasi yang tidak maksimal sebagai indikator, tetapi dibutuhkan langkah konkrit. Peningkatan kualitas pengajar adalah salah satu langkah untuk mencetak generasi yang berkompeten. Serta menyelaraskan antara kebutuhan kehidupan dan disiplin ilmu yang tersedia di Universitas.

Universitas seharusnya tidak hanya menyediakan jurusan sebagai sebuah disiplin ilmu tanpa melihat peluang-peluang yang akan didapatkan setelah mahasiswa tersebut selesai. Dibutuhkan diskusi yang dalam dari segala pihak agar target pendidikan sebagai motor utama kehidupan berfungsi dengan baik. Bukan lagi hanya membicarakan pendidikan sebagai area bisnis. Memperbaiki sistem dari Sekolah dasar sampai perguruan tinggi, agar perguruan tinggi tidak hanya berdiri sebagai hiasan belaka. (DELUKMAN ASRI)


Copyright @2011-2016 malaqbicom, All Rights Reserved :: Redaksi | Pedoman Media Siber | Iklan | Disclaimer